Windyna’s Blog

‘My Lovely Country’

Panyakalan itulah nama desa kecil yang indah, damai dan hawanya sejuk dipagi hari, desa dimana ibu saya berasal yang berjarak ± 5 km dari Solok dan  ± 65 km atau sekitar 2 jam perjalanan naik mobil dari ibukota Sumatera Barat, Padang. Desa ini berpenduduk kira-kira 1.000 orang kepala keluarga yang sebagian penduduknya banyak yang merantau, hampir di setiap rumah ada keluarga nya merantau kedaerah lain, hampir ke seluruh propinsi di Indonesia dan paling banyak merantau ke pulau Jawa, profesinya macam-macam ada yang jadi pedagang, sopir, tukang jahit dan karyawan, banyaknya jadi karyawan/pegawai negeri. Ada beberapa penduduk desa ini yang sudah merantau sejak puluhan tahun, anak-anak dan cucu-cucunya banyak yang lahir dirantau. Paman saya Sofyan Lumad, Burmawi dan Bustami Murad dan beberapa famili sekitar tahun 1950 an sudah pada merantau ke Jakarta juga anak Uwo (bude) saya Bainar Lumad, Wherly Irwin menyusul mereka tak lama setelah paman-pamannya ini memperoleh pekerjaan.

Di zaman dulu di daerah ini sering terjadi perkawinan sesama orang sedesa, oleh karena itu sekitar 70%  dari penduduk desa ini mempunyai hubungan famili. Kakek-kakek saya ada yang memiliki 4 istri, tapi istri-istri mereka ini akur-akur saja satu sama lain, juga orang-orang lain banyak yang punya istri lebih dari satu, kebiasaan,hobi,bakat ini tidak menurun ke saya, saya tidak kuat memberi nafkah.

Karena desa ini desa kecil maka namanya tidak tercantum di peta, orang-orang Sumatera Barat sendiri mungkin banyak yang tidak tahu tentang desa ini. Desa Panyakalan masuk dalam kabupaten Solok, desa ini dikelilingi oleh bukit-bukit dan hamparan sawah, penduduk yang betempat tinggal di desa ini sebagian besar petani ada juga yang jadi pegawai negeri  dan bekerja di sekitar kabupaten Solok dan di Padang, dulu-dulu Padang terasa sangat jauh sekali dari desa ini sekarang ada yang setiap saat pulang pergi ke Padang naik mobil travel antar jemput. Dulu dari desa ini ke pasar Solok naik bendi atau sepeda sekarang sudah ada angkot dan jalan nya pun sudah diaspal mulus, transportasi lancar.

Kabupaten Solok cukup luas wilayahnya, mempunyai beberapa objek wisata termasuk danau Singkarak, Danau Diatas dan Danau Dibawah yang berdekatan lokasinya, ke dua danau ini bisa dilihat dari puncak bukit yang ada diantaranya, danau ini berada di daerah Alahan Panjang yang berhawa sangat sejuk dengan banyak kebun sayur bermacam-macam jenis dan juga kebun teh. Daerah ini penghasil sayur-sayuran terbesar di Sumatera Barat, lokasinya berada dikaki gunung Talang.talang

Gunung Talang yang pernah hampir meletus terlihat jelas juga dari rumah kami jika tidak ada kabut, jarak gunung ini kira-kira 30 km dari desa Panyakalan. Rumah kami rumah gadang, rumah tradisional Minangkabau berlokasi di ‘Kincie’ orang-orang menyebutnya kincie karena dulu ada kincir padi  disitu, sudah tiga kali kami pindah rumah yang pertama berlokasi dekat bukit tapi saya belum ada saat itu, setelah itu pindah ke rumah di Ilie Banda dan saya pernah tinggal dirumah ini  dari umur 5 sampai 10 tahun, sampai kelas 4 Sekolah Rakyat

Keluarga saya pindah ke rumah di Ilie Banda ini  karena waktu itu terjadi pemberontakan PRRI (Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia) tahun 1958, bapak saya dan beberapa famili ikut bergabung dengan PRRI dan menggungsi ke desa kami ini, sebelumnya kami tinggal di asrama militer Padang, bapak Ahmad Husein pimpinan PRRI juga menggungsi bersama keluarganya ke daerah kami. Banyak orang desa saya yang pro dan bergabung dengan PRRI sekalipun mereka rakyat sipil dan belum pernah mendapat latihan militer. PRRI dan rakyat didaerah ini tidak suka APRI (ABRI) yang menurut issue, banyak yang berhaluan komunis dan mereka bersemangat menumpas PRRI yang jelas-jelas anti komunis yang ingin minta daerah otonomi dan pemerintahan sendiri.

Sewaktu APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia) sudah masuk ke Sumatera Barat dan sampai ke kampung kami, kami dengan beberapa orang sekampung sudah menggungsi lagi ke daerah yang lebih jauh namanya Sirukam, ketempat yang tersembunyi dihutan belantara yang susah dicapai dan hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki, jalannya masih tanah dan sangat licin kalau hujan, juga ada beberapa jembatan kecil yang harus dilewati, medannya sangat sulit ditempuh,. APRI tidak berani masuk kedaerah ini karena berisiko kembali tanpa nyawa selain tidak mendapat dukungan rakyat setempat,  rakyat tidak suka dengan kedatangan mereka.

Umur saya baru 5 tahun tapi saya masih ingat kejadiannya sampai sekarang, saya dan adik perempuan saya digendong oleh beberapa orang kampung untuk mencapai daerah tersebut.

Yang mengendong  saya bernama bpk.Supilin saya digendong dipunggungnya melalui jalan setapak yang licin ketempat yang dituju, setiap saya mudik saya ketemu dia, dia cerita macam-macam waktu zaman perang dulu, saya sedih belum lama ini saya mendengar bpk.Supilin sudah meninggal dunia.

Selama ± 3 tahun pemberontakan  tersebut ada beberapa orang kampung dan famili yang tewas juga, setelah suasana dikampung agak aman ibu, saya dan adik saya dan beberapa orang yang mengungsi kembali lagi ke Panyakalan desa kami. Rumah kami dan beberapa di rumah-rumah yang lain di beri tanda petak dengan silang warna hitam oleh APRI untuk menandakan bahwa penghuninya ada yang jadi PRRI mereka dapat informasi dari beberapa penduduk yang pro APRI.

Paman saya Yunir Lumad dan Wandra Hamid paling dicari-cari APRI waktu itu mungkin masuk dalam daftar mereka, sebentar-sebentar mereka datang kadang-kadang datangnya malam hari dengan senjata terhunus yang membuat kami sangat ketakutan, menendang pintu-pintu, menggeledah semua pelosok-pelosok rumah. Biasanya orang-orang kampung segera memberi tahu jika APRI memasuki kampung kami dan PRRI segera lari bersembunyi atau bersiap menghadang mereka ditempat-tempat tertentu, karena banyak juga PRRI yang berpakaian seperti orang kampung.

Jarang APRI mengejar sampai kebukit-bukit berhutan lebat karena mereka belum menguasai medannya dan berisiko tak kembali, pernah saya lihat beberapa kali pesawat terbang memborbardir bukit-bukit tersebut tapi saya rasa tidak akan mengenai tempat persembunyian PRRI, mereka asal tembak saja, tidak ada yang tewas, PRRI memilih bergerilya dihutan-hutan dalam peperangan ini. Bapak saya dan anggota PRRI sesekali turun dari tempat persembunyian mereka ke Panyakalan dengan berpakaian seperti orang sipil.

Singkat cerita, lebih kurang 3 tahun peperangan akhirnya ada perdamaian kedua pihak dan 4 tahun setelah pemberontakan PRRI ini selesai tahun 1965 orang-orang komunis melakukan kudeta lagi utuk kedua kalinya dan bisa ditumpas juga.

Saya sedang mencari buku yang pernah saya baca tetapi sudah lupa ceritanya tentang pemberontakan PRRI ini yang berjudul ’Hancurnya PRRI dan Permesta’ ada yang menyimpannya dan bisa saya pinjam? Atau bisa memberi info dimana saya bisa memperolehnya? saya ingin membaca lagi informasi yang lebih detail didalam buku ini.

Kembali lagi ke cerita semula, rumah adat kami yang di Ilie Banda ini ditempati 3 keluarga, saudara-saudara dari ibu saya, didepan rumah ini ada ’rumah padi’, tapi bukan ’rangkiang’ seperti yang biasa terdapat 2 buah di depan rumah adat yang juga mempunyai atap bergonjong mirip rumah gadang.

Model ’rumah padi’ ini seperti model rumah biasa dari kayu kami menyebutnya ’rumah padi’ karena dipergunakan tempat menyimpan padi yang sudah dipanen di rumah ini juga ada 2 kamar yang dipakai buat tidur-tiduran bagi siapa yang berkunjung, seperti rumah singgah, hampir setiap hari ada saja orang-orang sekitar kampung yang datang mampir terutama para pemuda dan ada beberapa yang menginap cukup lama di kamar tersebut dan dibiarkan saja karena ada kebiasaan anak-anak muda waktu itu tidak tidur dirumah orang tuanya masing-masing. Pemuda-pemuda yang sering datang dan pernah tinggal agak lama dirumah kami akhirnya banyak juga yang merantau setelah pemberontakan PRRI berakhir tahun 1961 dan mereka ada juga yang sukses dalam pekerjaannya.

Saya masih ingat, rumah adat kami ini mempunyai dapur dan ruang makan yang cukup luas, meja makan yang panjang dengan bangku kayu yang juga panjang, saya sering makan bersama sepupu-sepupu sewaktu kami masih kecil-kecil dulu di meja makan ini, juga kami rame-rame bikin bermacam-macam kue dan membakar lemang setiap mau lebaran.

Disekitar areal rumah kami yang lumayan luas ada satu tempat penumbuk padi atau ’lasuang’ dari kayu yang sering kami pergunakan bersama-sama mengenjotnya membantu nenek kami menumbuk padi dan beras dan membuat ’galu-galu’ makanan tradisional dari padi muda ditumbuk diberi gula dan kelapa dan disekitar sini ada juga beberapa pohon kelapa, kopi, buah-buahan seperti manggis, duku, jambu dan kuini kami sering naik kepohon buah-buahan tersebut jika sedang musim buah. Kami juga sering kehutan yang tidak terlalu jauh dari rumah kami, mencari bermacam-macam buah-buahan yang ada, orang-orang dewasa banyak yang mencari kayu dan rotan.

Dikaki hutan ini ada juga kebon jeruk dan karet milik keluarga kami juga tapi sekarang sudah habis pohon-pohon tersebut. Selain mencari buah-buahan kami juga sering mencari ikan, belut dan belalang, nyari belalang biasanya setelah sawah-sawah dipanen, nyarinya waktu subuh karena belalang lebih mudah ditangkapnya diwaktu pagi hari, terbangnya tidak jauh-jauh, sayapnya masih basah oleh embun, daging belalang sangat gurih, enak kalau digoreng.

Kalau nyari belut dipematang sawah-sawah ada yang nyarinya malam hari menggunakan lampu petromak karena belut sering keluar dari sarangnya diwaktu malam dan mudah menangkapnya, daging belut juga sangat gurih, belut dibelah dikasi bumbu, ditokok dan dijemur sampai kering lalu digoreng sampai garing dan diberi cabe.

Juga kami sering mencari ikan dikali-kali kecil yang airnya jernih dari gunung menggunakan pancing dan ‘tangguak’ (serokan) kalau dapat ikan sangek (lele) kami men ‘togak’ nya, ikan tersebut ditusuk seperti sate dari mulut sampai ke ekornya, badannya diiris-iris dan diberi bumbu atau air jeruk lalu dipanggang diatas bara, sedap sekali rasanya, kadang-kadang singkong atau ubi jalar juga kami bakar dalam bara, rasa-rasanya tidak sulit mencari bermacam-macam makanan dikampung saat itu.

Dikali yang agak besar kami pergunakan untuk mandi-mandi berenang, kami juga sering bermain bola di sawah yang agak luas setelah dipanen kadang-kadang dilapangan bola yang agak jauh dari rumah kalau main kasti biasanya dihalaman sekolah.

Itulah sedikit cerita kenangan masa kecil saya yang menyenangkan semasa  tinggal didesa Panyakalan ditahun 1958-1963 sewaktu berumur 5-10 tahun, setiap mudik lebaran saya mengunjungi bekas rumah dan tempat bermain kami dulu, yang masih ada bak air didepan ‘rumah padi’ dan bak yang ada didapur, juga masih ada beberapa pohon kelapa dan manggis dulu.

Di tahun 1962 bibi saya Zaherma dan suaminya Wandra Hamid beserta anak-anaknya merantau juga ke Jakarta, kemudian Uwo saya Bainar mengikuti anaknya Wherly yang sudah lebih dulu ke Jakarta lalu tahun 1968 bapak dan ibu saya menyusul juga setelah tinggal di Padang selama 4 tahun, yang tinggal dikampung hanya kakak laki-laki ibu Yunir dia tinggal dirumah istrinya Arnis sampai akhir hayatnya. Saudara-saudara dan orang-orang lain juga banyak yang sudah meninggalkan kampung, merantau ke berbagai daerah bahkan ada juga yang sampai ke luar negeri.

Tahun 1970 praktis hampir semua keluarga saya sudah berada dirantau, rumah kami yang di Ilie Banda juga sudah rusak dan lapuk karena tidak ada yang menunggui, walau kondisi ekonominya kurang baik orang kampung kami tidak ada yang mau jadi pembantu dan mau menunggui rumah kami tersebut akhirnya rumah yang sangat bersejarah itu dirobohkan karena sudah tidak layak huni, kami tidak punya rumah lagi dikampung kami sendiri.

Setelah beberapa lama tinggal dirantau, Uwo (bude) saya Bainar punya inisiatif untuk membangun rumah di kampung kembali beliau pernah bilang ke famili-famili ‘walau kita semua sudah punya rumah dirantau masa kita tidak punya rumah dikampung sendiri sedangkan kita masih punya beberapa petak sawah dan kebun, lagipula kalau ada yang mau pulang/tinggal di kampung nanti mau tidur dimana?, masak punya kampung tapi tidak punya rumah?

Akhirnya semua setuju maka dibangunlah rumah yang sekarang, rumah adat tradisional Minangkabau juga, sebenarnya sudah ada rencana membangun rumah ini setelah pemberontakan PRRI selesai, sudah ada pondasi, tiang-tiang utamanya dan lantai kayu tapi dibiarkan terlantar bertahun-tahun tidak diteruskan sampai selesai karena sudah banyak keluarga yang pergi meninggalkan kampung saat itu.

Uwo Bainar yang bersikeras untuk membangun meneruskan rumah adat tersebut dan tahun 1972 rumah ini selesai, sudah jarang dikampung Panyakalan ini orang membuat rumah adat yang tiang dan papannya dari kayu khusus yang mengkilat seperti dipelitur dan ukirannya hanya bisa dikerjakan oleh ahlinya dari daerah Salayo yang masih banyak rumah tradisional itu. Tapi atapnya tidak dari ijuk lagi seperti rumah adat lama  atapnya seng yang lebih ringan, ijuk lebih berat apalagi kalau kena air hujan.rum-5

Di kampung kami cuma ada 2 rumah adat yang cukup baik kondisinya sekarang ini yang satu lagi rumah ibu Mislir istri paman saya Sofyan Lumad, rumah-rumah adat yang lain sudah tua dan banyak yang rusak, orang-orang sekarang lebih senang membangun rumah model baru dari tembok bata.

Rumah kami ini lokasinya agak terpencil, dulu-dulu dibelakangnya ada kincir padi yang menggunakan tenaga air dari kali dan tiga rumah tinggal milik kakek saya juga (kakak nenek saya) Ali Panduko Rajo, tapi sekarang sudah tidak ada lagi karena sudah rusak, dirobohkan dan tidak dibangun lagi.

Jarak rumah kami ini ada kira-kira  ± 100 meter dari pinggir jalan raya Panyakalan-Solok, ada jalan sendiri yang dibikin untuk masuk kedalam, sekeliling rumah sekarang hanya sawah dan posisi rumah menghadap ke gunung Talang.

Banyak orang-orang bilang kenapa kakek-kakek saya memilih lokasi yang agak jauh dari jalan dan rumah-rumah orang lain, padahal kami punya tanah juga di pinggir jalan raya, akhir saya mengerti tanpa seorangpun yang memberi tahu, kakek saya tidak salah dan tidak sembarangan memilih lokasi, dia pilih view yang bagus dan indah menghadap ke gunung Talang dengan hamparan sawah-sawah yang terbentang luas didepan rumah, lokasi yang tenang buat istirahat anak cucu, kemenakannya, aman tenteram tidak berisik seperti villa dan kastil-kastil zaman dulu, kalau lokasinya dipinggir jalan raya ya view nya jalan dan rumah orang-orang.

Rumah yang sudah selesai ini juga tidak ada yang menempati secara tetap, Uwo saya kadang-kadang pulang kekampung ini hanya untuk mengurus sawah-sawah dan pernah agak lama menetap tapi balik lagi ke Jakarta ke tempat anak satu-satunya Wherly.

Yang penting kami punya rumah dikampung walau tidak banyak yang berminat untuk tinggal disini.

Akhirnya rumah ini disuruh tempati oleh Siak dan istrinya Ros beserta anak-anaknya, mereka sudah dianggap keluarga besar kami, dia tinggal dirumah itu selama beberapa tahun sekalian mengurus dan mengerjakan sawah-sawah. Pada tahun 1991 Siak dan Ros ingin pindah karena sudah punya rumah sendiri, ibu dan ayah saya yang ditawarkan untuk tinggal dikampung, sayang rumah tidak ada yang merawat lama-lama bisa rusak kata famili-famili, ibu saya akhirnya setuju walau beliau juga sudah punya rumah di daerah Cempaka Baru Jakarta yang saya tempatin sekarang ini.

Kami juga punya rumah lain didesa ini tapi baru 75% selesai dan sampai sekarang belum diteruskan pembangunannya oleh Nagari, rumah dari tembok ini dibangun oleh Nagari sebagai hadiah karena kami telah mewakafkan tanah yang cukup luas untuk pembangunan SMP yang belum ada didesa ini, lokasi rumah berhadapan langsung dengan SMP yang sudah selesai dibangun 7 tahun lalu.

Rumah adat kami pernah juga didatangi oleh putra mahkota Jepang, pangeran Akishino tapi dia tidak datang untuk melihat rumah, dia datang mau lihat peternakan ayam langka ‘yonkilok’ ayam kokok balenggek (bertingkat) yang dipelihara bapak saya, bapak saya hobi pelihara burung perkutut dan ayam langka yang ada didaerah Solok ini dan sering juga dapat piala kalau ada perlombaan ayam kokok balenggek yang kokoknya ada yang sampai sembilan tingkat.

Pangeran Akishino suka dengan unggas-unggas langka dan bapak saya memberinya beberapa telor ayam ini untuk diteliti. Setelah bapak saya sering sakit-sakitan ayam-ayam ini tidak ada yang telaten mengurusnya dan akhirnya habis.

Dari sejak tahun 1990 bapak, ibu dan adik laki-laki saya tinggal dikampung ini, bapak saya meninggal tahun 2005 sekarang yang ada dirumah tersebut 3 orang, ibu, adik saya laki-laki dan seorang famili yang diajak tinggal disana dan biasa dipanggil ‘Kenek’ bukan berarti kenek mobil tapi ‘kecil’ walau orangnya tidak kecil, saya tidak tau asal usulnya kenapa dipanggil demikian. Kenek rajin bantu-bantu kami, orangnya lucu juga, tak pernah menolak disuruh apapun untuk membantu kami selalu jawabnya bisa tidak ada yang tidak bisa dikatakannya, kami juga sering memberi dia imbalan berupa uang atas pekerjaannya, kadang-kadang dia mengerjakan pekerjaan yang agak berat yang kami agak susah mengerjakannya. Waktu itu kami mau menebang 3 pohon kelapa yang ada didepan rumah yang berada didepan SMP itu karena membahayakan anak-anak sekolah dan orang-orang yang berada dibawahnya, buah dan daun kelapa yang sudah tua sewaktu-waktu bisa jatuh menimpa.

Kenek bilang dengan jakin dia bisa menebangnya tapi tidak kami biarkan takut dia jatuh, dia belum pernah melakukannya dia bukan ahlinya dan disamping itu dibawahnya ada kawat listrik yang bisa tertimpa potongan-potongan pohon. Akhirnya pohon kelapa itu ditebang oleh orang yang sudah biasa melakukan pekerjaan tersebut dengan ongkos yang lumayan.

Ada juga adik saya yang perempuan yang bekerja dan menetap di Padang tapi hanya sesekali pulang dan menginap dan adik perempuan saya satu lagi yang tadinya tinggal di Belawan kemungkinan mau tinggal di kampung menemani ibu nanti karena suaminya sudah pensiun tapi dia masih ragu-ragu karena dia sayang meninggalkan rumahnya di Belawan.

Ibu saya dan adik perempuannya lah pewaris harta pusaka kami di kampung juga adik-adik, sepupu-sepupu, ponakan-ponakan perempuan saya, yang jadi pewaris hanya wanita, yang laki-laki cari sendiri-sendiri rezekinya. Tak lama lagi saya pensiun dan kemungkinan saya bisa agak lama tinggal dkampung bersama ibu saya yang sudah berumur 83 tahun. Walaupun saya lama tinggal dikota saya berharap betah tinggal agak lama dikampung yang saya cintai dan sepi ini tapi juga indah dan eksotis. Penduduknya telah banyak yang merantau dan menetap di berbagai daerah dari sejak dulu dan sudah beranak cucu, orang-orang  yang biasa tinggal dikota saya rasa mungkin tidak akan betah menetap disini termasuk famili-famili saya yang berada dirantau apalagi sudah banyak juga yang telah menikah dengan orang dari lain daerah.

Bagi pembaca yang ‘avonturir’ dan ingin berkunjung ke Sumatera Barat untuk melihat semua objek-objek wisata bisa ditempuh dalam 5 hari, karena lokasi wisata nya tidak berjauhan ( info lebih lanjut di www. minangkabautourism.info ) dan juga bisa mampir dan menginap di rumah kami dirumah tradisional Minangkabau untuk beberapa hari jika kebetulan saya ada dikampung, tapi bukan kemewahan yang saya tawarkan bukan fasilitas seperti hotel, rumah kami tergolong sederhana, rumah kampung. Welcome to everyone who want to visit West Sumatera and us ! (Eddy Nasral)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

%d bloggers like this: