Windyna’s Blog

‘Hobbies’

Posted on: July 16, 2009

Boleh dikata hampir semua orang mempunyai hobi, ada yang suka mengkoleksi benda-benda yang menjadi hobinya itu seperti mengkoleksi perangko, mata uang, piringan hitam, kaset musik, ld, cd, dvd, film 8mm, buku/majalah, lukisan, foto, keramik, cincin, kaca mata, kartu pos, bungkus rokok, korek api, permata, pakaian, jam, binatang, tanaman, camera, crystal, barang-barang atau motor/mobil antik dan banyak lagi yang lain ada juga yang aneh-aneh bahkan ada juga hobi ngumpulin  wanita seperti sheik-sheik, raja-raja minyak di timur tengah yang menyimpan wanita di harem-harem.

Menurut yang saya baca, perangko yang berukuran kecil-kecil tersebut ada yang berharga jutaan rupiah dan perangko terlangka didunia yang salah cetak bergambar pesawat terbang terbalik tersebut bernilai sekitar Rp 30 milyar.

Selain hobi mengumpulin benda-benda ada pula berupa kegiatan-kegiatan misalnya hobi berolah raga, fotograpi, menonton, airsoft gun, shopping, memancing, snakehunter, membaca, berkesenian (menyanyi, bermusik, melukis dll) dan beribadah.

 Pernah diberitakan ada beberapa wanita-wanita yang hobi shopping beramai-ramai keluar negeri hanya untuk shopping fashion dan perhiasan entah berapa banyak biaya yang dikeluarkan tapi bagi mereka uang tidak ada masalah yang penting dapat kepuasan memiliki barang yang diidamkan, (kalau saya hobinya hanya window shopping melalui internet).

Ada pula mantan seorang ibu negara tetangga yang hobi mengkoleksi ribuan pasang sepatu, rasa-rasanya ini bukan hobi lagi tapi ‘megalomania’

 Apa merokok, meminum minuman keras, berjudi, memakai narkoba bisa digolongkan hobi? kalau ini termasuk hobi berarti hobi yang destructive, suka mengutil bukan hobi tapi kleptomania, mengutil bisa juga akibat tekanan ekonomi seperti seorang ibu yang tertangkap mengambil sekaleng susu untuk bayinya, sungguh menyedihkan sementara ibu-ibu yang lain bersuka cita shopping menghambur-hamburkan uang.

 Bagi yang punya hobi memancing ada kepuasan sendiri sewaktu manarik ikan yang tersangkut dimata kail, merasa puas dengan hasil tangkapan sendiri, bagi yang tidak hobi mendingan langsung membelinya dipasar ketimbang menunggu berjam-jam untuk mendapatkan dengan mengeluarkan biaya yang cukup besar pula dan belum tentu juga mendapatkan ikan senilai biaya yang telah dikeluarkan.

 Ada juga orang-orang yang punya hobi lebih dari satu macam sehingga barang yang dikumpulkan juga bermacam-macam sehingga memerlukan tempat khusus apalagi benda yang dikoleksi berukuran besar, seperti suka ngumpulin drum set bermacam-macam merk,lukisan-lukisan dan guci-guci berukuran besar bahkan ada juga yang koleksi mobil.

 Beberapa tahun terakhir ini hobi surfing di internet (netter) menjelajah dunia maya yang unlimited ini menjangkiti banyak orang diseluruh dunia dari anak-anak sampai orang tua, bermacam-macam bisnis, games dan informasi dapat ditemukan dengan cepat ada yang tahan berjam-jam berkutat didepan PC, laptop atau juga HP baik dirumah, kantor, warnet maupun di tempat-tempat yang menyediakan hotspot atau wifi. Mungkin lebih dari sekedar hobi, seakan-akan sudah menjadi bagian kebutuhan hidup sehari-hari, tiada hari tanpa berinternet tapi ya ada tapinya akibat kemajuan teknologi ini selain banyak informasi positif yang bisa diakses, banyak pula yang negatif. Sekarang hobi membuat website, blog dan facebook juga lagi rame-ramenya banyak buku tentang ini diterbitkan dan diperkirakan di Indonesia sudah mencapai 250.000 blogger dari satu juta yang ditargetkan.

 Apapun bentuk hobinya tentu memerlukan biaya, ada yang biayanya kecil dan ada yang besar sesuai jenis barang yang dikoleksinya dan hobi berupa kegiatan yang ditekuninya.  Ada orang yang menghabiskan biaya yang sangat besar untuk memenuhi hobinya untuk memperoleh apa yang dinginkan jangankan uang tulis penulis di majalah ‘Mata Baca’ nyawa pun dipertaruhkan demi hobi seperti arung jeram dan hobi mendaki gunung misalnya sudah banyak pendaki-pendaki gunung/pencinta alam yang tewas karena ingin menaklukkan ketinggian gunung-gunung dan mendapat kepuasan setelah berada dipuncaknya.

   Bermacam-macam bentuk hobi tersebut tujuannya untuk mencari kepuasan baik lahir maupun bathin merasa puas kalau sudah memiliki benda-benda yang disenangi, bisa dipandang-pandang, didengarkan dan dipakai sewaktu-waktu atau merasa tenteram hati setelah melakukan hobi yang berupa kegiatan-kegiatan.

 Saya tidak tahu pasti adakah orang yang tidak mempunyai hobi kalau ada alangkah menyenangkan juga tidak mengeluarkan biaya dan tidak repot-repot hunting mencari benda yang diinginkan dan merawatnya. Tapi yang punya hobi bisa juga menjadikannya sebagai profesi dan menguntungkan banyak orang-orang yang sukses di dunia bisnis berawal dari ketekunan bertahun-tahun menggeluti hobi. Contohnya orang yang hobi tanaman yang memeliharanya dari sejak benih sampai sekian lama, seperti tanaman ’anthurium’ bisa mendapatkan uang yang tidak sedikit dari hobinya ini karena satunya ada yang berharga puluhan sampai ratusan juta.

 Dari bermacam-macam hobi mungkin paling banyak adalah hobi membaca (juga melalui internet) banyak pengetahuan diperoleh yang tidak pernah dipelajari disekolah sebelumnya, mungkin sudah banyak buku dan majalah yang pernah dibeli dan dibaca tapi sayangnya tidak terkumpul dan terawat dengan baik sehingga banyak yang hilang dan rusak setelah sekian lama jika ingin membaca-baca nya lagi baru menyesal karena buku-buku tersebut susah dicari dan tidak dicetak ulang ‘out of print’.

Pernah saya baca dikoran ada seorang bapak mencari buku-buku pelajaran yang pernah dipelajarinya sewaktu masih duduk dibangku SR dan SMP untuk dikoleksi sebagai memorabilia jadi bukan buku/majalah hiburan saja yang ingin dikoleksi.

 Ada baiknya jika memungkinkan mempunyai ruang/lemari khusus untuk perpustakaan atau menyimpan barang-barang koleksi yang bisa terawat dengan baik dan tertata rapi sehingga mudah mencarinya jika diperlukan.

Dokumentasi tentang buku/majalah, musik, foto dan film di negara kita kurang baik sehingga apabila diperlukan susah mencarinya atau sudah tidak ada lagi bahkan diprodusernya sendiri, jangankan yang produksi dibawah tahun 60 an yang diatas tahun 70 an pun susah diketemukan.

Ingin membaca buku/majalah atau menonton film-film Indonesia tahun 50 – 60 an saya rasa sudah tidak mungkin lagi.

 Saya kagum dengan beberapa majalah musik luar yang masih terbit sekarang bisa menampilkan bermacam-macam foto-foto zaman dulu dan berbeda-beda dalam setiap penerbitannya masing-masing, pernah pula saya lihat satu buku yang tebal terbitan Belanda dengan banyak foto-foto yang sangat bagus gambarnya/terawat baik tentang foto-foto Indonesia zaman dulu.

 Hobi baca buku selain menambah banyak pengetahuan bisa juga dijadikan profesi misalnya buka toko buku atau taman bacaan bisa juga jadi penulis, untuk menjadi penulis yang baik haruslah suka baca buku, cinta buku(bookholic) bukan berarti mencontek buku-buku yang pernah dibaca tapi mungkin untuk membanding-bandingkan gaya penulisan sehingga bisa menemukan gaya sendiri.

 Saya dengar sekarang-sekarang ini ada orang-orang membeli 2 buah majalah atau buku yang bagus sekaligus yang satu untuk dibaca-baca dan yang satu lagi yang masih seal langsung disimpan untuk koleksi, banyak majalah Indonesia yang populer dulu susah dicari saat ini seperti, Varia, Selecta, Tjaraka, Violeta, Sonata, Variasi, Senang, Stop, Junior, Mayapada, Eres, Maskulin, Aktuil, Top, Vista, HumOr, Varia Nada, Eres, Junior, LeLaki, MG, Top Chord, Popcity dll dan bahkan di redaksi atau penerbitnya sendiri sudah tidak ada padahal ini sangat penting untuk dokumentasi.

 Saya pernah baca juga di sebuah majalah ada orang-orang yang hobi membaca dan mempunyai koleksi banyak buku-buku bagus yang sudah tidak diterbitkan lagi dan susah mencarinya akhirnya ada beberapa yang dijual bukan berarti mereka tidak suka lagi dengan buku tersebut dan juga bukan semata-mata untuk memperoleh uang tapi untuk memberi kesempatan pada orang lain untuk membaca dan memilikinya’ kalau mereka sudah lama menyimpan dan sering mengulang-ulang membacanya mungkin banyak yang hapal isinya lagipula mereka punya keyakinan orang yang akan membelinya pasti orang yang sangat berminat dan ingin tahu tentang apa saja isi buku tersebut dan pasti akan merawatnya dengan baik’,

 Banyak yang hobi dan berprofesi dibidang musik baik sebagai pencipta, pemain maupun penyanyi, tapi sekarang kita berbicara tentang hobi sebagai ‘pendengar musik’ saja, ada yang cukup hanya sebagai pendengar tapi ada juga yang punya keinginan untuk mengkoleksi segala sesuatu yang berkaitan dengan musik seperti piringan hitam, kaset, cd, dvd juga buku/majalah musik sebagai referensi karena dengan mengumpulkan benda-benda tersebut musik yang difavoritkan bisa didengar kapan saja dan semakin banyak jenis musik atau artis yang difavoritkan semakin banyak pula benda tersebut dikoleksi lagipula ada perasaan belum puas dengan yang telah dimiliki sehingga jumlahnya bertambah semakin banyak.

 Ada beberapa orang yang musik mania kamarnya bila diperhatikan tak ubahnya seperti toko musik ada kaset, cd, dvd dan piringan hitam mungkin ribuan jumlah koleksinya entah berapa puluh juta rupiah telah dihabiskan nya untuk hobi ini.

 Kapan punya waktu untuk bisa menikmati koleksi musik sebanyak itu? atau cuma senang mengumpul-ngumpulkan nya saja dan belum merasa puas dengan yang sudah dimiliki?, pernah seorang teman kolektor bilang yang penting punya dulu dengarnya nanti-nanti saja.

 Sebelum membeli DVD, CD, Kaset atau LP album group-group musik yang belum dikenal ada baiknya membaca referensi tentang group tersebut membaca reviewnya dan rating albumnya di situs musik kalau dulu di majalah Aktuil ada sorotan tentang PH dan album-alabum baru yang direlease, supaya tidak kecewa setelah membeli dengan harga yang cukup mahal ternyata musik dan lagu-lagunya tidak seperti yang diharapkan, ada CD yang tidak bisa dicoba dulu karena masih di seal juga membeli melalui shopping online sudah jelas tidak bisa dicoba tapi terkadang ada yang menyediakan soundclipnya tapi itupun tidak full satu lagu hanya sepotong saja.

Jadi yang dikoleksi benar-benar group-group musik yang berkwalitas baik dan benar-benar disenangi (juga oleh orang banyak) atau group yang langka-langka, siapa tau nanti suatu saat ingin menjualnya lagi.

 Bagi yang keadaan finansialnya cukup mungkin tidak perlu menjual barang-barang koleksi kesayangannya ini yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun dan mengorbankan banyak waktu, tenaga dan uang untuk memperoleh dan mencarinya kemana-mana.

Tapi bagi yang sangat membutuhkan uang bisa menjualnya lagi walau terpaksa dan belum tentu untung tapi keuntungannya hanya telah menikmatinya, ada baiknya juga mengkoleksi benda-benda yang disenangi banyak orang dan gampang dijual, saya pernah melihat beberapa benda-benda koleksi yang dijual lagi dan banyak peminatnya, kondisinya masih bagus dan terawat baik dan harga nya juga masuk akal.

Bagi yang hobi dengar musik misalnya kalau punya modal cukup bisa membuka toko/café musik bisa juga bikin majalah musik atau sebagai reporter bisa juga sebagai penyiar, music director di stasiun radio karena sudah mempunyai referensi banyak tentang bermacam-macam musik.

 Hobi sebagai ‘music listener’ saya agak aktif dengarin musik antara tahun 1967-1975 setelah itu sudah sangat jarang, pada saat kedatangan musik punk, new wave, hair metal dan musik-musik sekarang ini hanya tahu sebagian dan nama-nama groupnya saja, sudah kurang antusias dengan musik-musik jenis ini.

Ditahun 1980 mulai lagi cari-cari kaset group klasik rock dan mengkoleksinya ada beberapa ratus rekaman kaset yang dikoleksi dari beberapa perusahaan rekaman kaset yang terkenal, CD belum masuk pasar Indonesia. Setelah itu coba-coba cari PH group yang belum ada kasetnya akhirnya jumlah PH banyak juga bahkan yang sudah ada kasetnya pun di beli.

Sewaktu ada larangan kaset yang tidak berlisensi, perhatian lebih fokus mengkoleksi PH, kaset berlisensi dan CD yang baru masuk belum banyak merekam group-group klasik rock.

Koleksi PH adalah hobi yang tidak populer di Indonesia bisa dihitung dengan jari yang jadi record collector mungkin karena PH susah didapat disamping produksi perusahaan PH lokal dulu yang jumlah nya tak banyak,juga dulu tidak banyak perusahan PH asing di Indonesia seperti di negara Malaysia, Singapore, Hongkong dan Thailand ada EMI, MCA, CBS, Probe, United Artist, Polydor dll sehingga stock PH di Indonesia tidak sebanyak di negara tersebut atau negara lain lagi pula orang-orang kita lebih cenderung menyenangi produk-produk yang baru yang serba mutakhir dan canggih sehingga record store yang ada dulu pada tutup atau beralih ke penjualan kaset,ld,cd atau dvd yang lebih banyak peminatnya.CB  

Banyak alasan orang suka mengkoleksi PH, karena ada keinginan kembali ke cara kuno untuk mendengarkan musik melalui turntable, mengingat-ingat kenangan masa lalu dan juga prosesnya itu bersusah-susah untuk mendengarkan lagu-lagu favorit melalui PH ada kenikmatan tersendiri banyak pula yang senang dengan cover art nya.

Menurut saya memang ada kelebihannya mengkoleksi PH terutama bisa dengar musik yang disenangi selain itu bisa melihat art cover yang banyak bermutu tinggi ada buku tentang ribuan cover art PH yang bagus-bagus dan langka seperti ‘Album Cover Album’ karangan ‘Roger Dean’, dan 1000 Records Covers oleh Taschen,(ada dijual di toko buku di Indonesia), juga bisa membaca semua informasi yang ada di cover dan label PH tersebut, kalau hobi mengumpulkan benda-benda lain hanya ada sedikit informasi dan hanya bisa dipandang-pandang saja tidak bisa didengar.

Tapi ya begitulah hobi orang berbeda-beda, orang yang tidak hobi koleksi PH jangankan mau membeli sekalipun harganya murah diberipun belum tentu mau menerimanya walaupun PH itu bagus dan langka, buat apa repot-repot dengarin musik, kampungan katanya, tapi bagi yang hobi kadang-kadang hanya untuk mendapat single yang cuma ada 2 lagu dengan harga puluhan juta rupiah banyak yang mem ‘bid’ di eBay atau ‘record stores’ yang jumlahnya masih cukup banyak dengan stock PH yang masih cukup banyak pula.

Ada juga produsen musik Akarma di Italia selain memproduksi CD juga memproduksi lagi PH klasik rock khusus untuk penggemar/kolektor PH, dibeberapa negara ada situs dan komunitasnya juga dan terkadang ada ‘record fair’ yang diadakan secara berkala oleh penggemarnya, bisa diskusi, barter dan jualan PH disana, sampai sekarang juga masih terbit majalah khusus kolektor PH (sekarang juga CD) seperti Goldmine dan Record Collector .

Ya selera dan hobi orang memang tidak selalu dan harus sama.

Tidak tahu kapan hidup akan berakhir, tapi saya berharap benda-benda koleksi peninggalan 70’s yang dimiliki seperti PH, kaset dan beberapa majalah/buku-buku yang jumlahnya tidak seberapa banyak dan tidak besar nilai rupiah nya ini tidak akan ada dirumah saya lagi pada saat meninggal dunia nanti saya tidak ingin mewariskan ke keluarga, mereka juga tidak berminat.

Disamping disibuki dengan pekerjaan dan hobi yang kadang-kadang banyak menyita waktu tersebut kita juga berharap bisa meluangkan waktu untuk lebih banyak sibuk beribadah kepada Allah dan kita semua setuju beribadah (juga merupakan kewajiban) kepada Allah lah yang paling menenteramkan hati, memberi kebahagiaan lahir bathin tanpa mengeluarkan biaya yang sangat banyak tapi paling tinggi nilainya tidak bisa diukur/dibeli dengan uang dan mudah-mudahan kita sanggup melaksanakannya lebih tekun. Amin! (Eddy Nasral)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

%d bloggers like this: