Windyna’s Blog

‘When I Was Young’

Posted on: July 17, 2009

Judul artikel diatas jelas saya tiru mentah-mentah dari satu judul lagu ‘Eric Burdon & The Animals’ yang cukup populer tapi berbeda cerita lirik lagu dengan cerita artikel yang saya bikin, yang sama cuma judulnya saja, lirik lagu yang saya copy-paste dari internet ceritanya seperti dibawah ini,

The rooms were so much colder then
My father was a soldier then
And times were very hard
When I was young

I smoked my first cigarette at ten
And for girls, I had a bad yen
And I had quite a ball
When I was young

When I was young, it was more important
Pain more painful
Laughter much louder

Yeah, when I was young
When I was young

I met my first love at thirteen
She was brown and I was pretty green
And I learned quite a lot when I was young
When I was young

My faith was so much stronger then
I believed in fellow men
And I was so much older then
When I was young

Sedangkan cerita artikel tentang hobi ini begini, seperti yang pernah saya tulis, hobi saya sewaktu masih duduk dibangku SMP selain dengar musik di radio, nonton film juga membaca terutama baca komik dan buku saku terbitan ’Analisa’ dan tentu saja baca majalah Aktuil yang baru saja masuk gelanggang dan sudah mulai digemari dan ramai dibicarakan.

Tapi cerita-cerita silat seperti karangan Kho Ping Ho dan pengarang-pengarang lain yang juga lagi populer kala itu saya tidak berminat untuk membacanya belum penah saya menamatkan satu buku pun cerita silat bersambung itu, padahal cerita silat ini banyak penggemarnya sampai sekarang bahkan ada komunitasnya juga. Teman saya, saya lihat sangat terpaku jika sedang membaca cerita-cerita silat ini sanggup berjam-jam membaca cerita yang berpuluh-puluh jilid itu dan cepat ditamatkannya, saya lebih senang baca komik karena ada gambarnya, tapi termasuk juga komik silat ‘Sie Djin Koei’

Beberapa komik karangan komikus Medan yang pernah saya baca dan disenangi masih ingat beberapa judulnya seperti : Kecak Mendai, Panglima Nayan, Paluh Hantu, Keulana, Morina, Setangkai Daun Surga, Hikayat Musang Berjanggut, Panglima Denai, serial Kapten Yani, Batas Firdaus, Udin Pelor, Spartacus, Pangeran Sulong juga komik Wiro dan Sie Djin Koei dll, dulu sarana hiburan cuma radio, komik, novel dan bioskop, TV belum ada.

Awal hobi baca komik ini mungkin karena sering dibelikan komik-komik Medan karangan Taguan Hardjo, Zam Nuldyn, Djas, Bahsyar dll oleh bibi saya setiap beliau pulang dari pasar Solok, waktu itu saya masih duduk dibangku kelas Sekolah Rakyat di Panyakalan dan waktu pindah ke Padang lagi tahun 1964 hobi ini berlanjut, komik-komik dibaca di tempat penyewaan komik di lantai 2 ‘pasa batingkek’ Padang, saya bisa berjam-jam berada disana sambil baca komik dan bisa juga dengar lagu-lagu yang diputar pakai turntable ditoko didekat situ, distel dengan volume cukup keras, yang sering diputar diantaranya lagu-lagu dari Rahmat Kartolo (Patah Hati), Alfian (Sungai Kahayan), Kus Bersaudara (beberapa lagu), Dara Puspita (beberapa lagu), Oslan Husein (Kampuang Nan Jauah Dimato), Tuti Subardjo (Djandjimu, Kuberjalan Sendiri), Titiek Puspa (Minah Gadis Dusun), Ernie Djohan (Teluk Bayur), Diah Iskandar (Surat Terakhir), Lilis Suryani (Hesty), Ellya Agus (Boneka dari India), Djuhana Satar (Pandangan Menggoda), Elly Kasim (Bareh Solok), Patti Bersaudara (Paradiso), Harry Noerdie (Lagu Kesayangan), Tetty Kadi (Bersampan), Jan Salakory (Lagu Untukmu), Kwartet Bintang (Putri Malu) dll, beberapa artis diatas sudah berpulang kembali ke pangkuan Illahi.

Saya sedang mencari lirik dan lagu Pelita Hatiku oleh Christine dan Winda oleh Alfian, siapa yang punya? Lagu-lagu dan musik Indonesia zaman dulu sederhana vocal dan aransemen musiknya tapi enak-enak didengar. I really love this Indonesian music era.

Ada juga beberapa toko didekat situ yang menjual piringan hitam, disamping plat-plat Indonesia (album The Guilties oleh Kus Bersaudara baru di release) saya pernah juga lihat piringan hitam The Beatles yang dipajang seperti album Revolver, Rubber Soul dan A Hard Day Night juga album Between The Button oleh The Rolling Stones, belum banyak tahu lagu-lagu mereka hanya beberapa saja seperti I Saw Her Standing There, Love Me Do, Hello Goodbye, Satisfaction, As Tears Go By dan beberapa yang lainnya.

Setiap mudik pulang kampung saya napak tilas, menyempatkan diri mengunjungi SMP I tempat saya pernah bersekolah dulu melihat ruangan-ruangan kelas dimana saya pernah belajar selama 3 tahun, saya masih ingat beberapa nama-nama dan wajah-wajah teman-teman sekolah dulu, siswi-siswinya mempesona saya banyak yang cantik-cantik sekarang sudah banyak yang jadi nenek-nenek, entah berada dimana mereka sekarang mungkin ada yang sudah meninggal, tak pernah saya bertemu mereka-mereka lagi, semoga mereka bahagia dan sehat-sehat saja.

Juga saya kunjungi tempat-tempat bermain disekitar pasar, bioskop-bioskop yang sering saya masuki dan tempat-tempat penyawaan komik di pasar bertingkat yang berlokasi di Pasar Raya yang jadi langganan dulu, masih ada beberapa tempat penyewaan komik sampai saat ini dan ramai pembacanya tapi areal nya tidak bersih, tidak terawat dan bangunannya juga sudah tua.

Pelukis komik yang jadi favorit penggemar komik kala itu selain Taguan Hardjo,Teguh Santosa, Hans, Ganesh Th, Fasen, Zaldy adalah Jan Mintaraga yang awal-awalnya membuat komik cerita roman/percintaan remaja yang lagi trend sebelum Jan dan komikus-komikus lain membuat komik cerita silat bersambung dengan judul yang bermacam-macam yang juga jadi trend setelah era komik roman remaja tersebut berlalu, pada masa inilah zaman emas komik Indonesia, akankah kembali lagi?

Tidak sekedar membacanya, gambar-gambar di komik komikus-komikus terkenal tersebut menarik perhatian saya, bagus-bagus walau didalam komik berukuran kecil.

Gambar Jan dan Ganesh Th garis-garisnya agak berantakan tapi gambar yang dihasilkan bagus, yang garis-garisnya tegas dan gambar yang perfect dengan banyak bayangan warna hitam adalah gambar komik yang dibuat oleh Teguh Santosa, menurut saya gambar backgroundnya ada yang mirip-mirip karya Roger Dean. Teguh Santosa satu-satunya komikus Indonesia yang pernah bergabung dengan komikus-komikus internasional di Marvel untuk membuat beberapa komik.

Komik bukan hanya komsumsi anak-anak dan remaja tapi juga untuk orang dewasa ada juga komik yang ’not suitable for children’ atau ’for adult only’ dan juga ada komik grafis dan komik underground jadi bukan musik saja yang beraliran underground seperti yang saya baca di salah satu majalah ’Mata Baca’, dimajalah ini ditulis tentang komik underground dan beberapa nama ilustratornya salah seorang bernama Harvey Kurztman, editor majalah dan buku komik MAD yang disebut-sebut oleh beberapa kalangan sebagai bapak komik underground Amerika, juga disebut kan di Indonesia ada beberapa judul komik underground dan nama pengarangnya tapi komik-komik ini tidak dijual di toko-toko buku terkemuka, saya belum pernah melihat komik underground tersebut seperti apa bentuk gambarnya, dimana bisa diperoleh?

Majalah ’Mata Baca’ yang saya baca ini (saya ingin mengkoleksi majalah ini) terbit sejak tahun 2002 berslogan ’mencermati dunia pustaka’ sebuah majalah yang sangat bagus untuk pencinta buku dan mudah-mudahan bisa bertahan lama walau ada sedikit kekhawatiran karena menurut beberapa kalimat yang saya kutip dari salah seorang pengelolanya Joko Pinurbo dalam kata pengantarnya 1 tahun majalah ’Mata Baca’ ditulisnya begini ’tidak mudah menerbitkan majalah semacam ini secara kontinyu apalagi bulanan . Pertama tidak ’populer’. Kedua sangat ’absurd’ hitungan bisnisnya. Berkat idealisme dan kekeraskepalaan para pengelolanya sajalah majalah yang tidak ’populer’ ini dapat hadir secara teratur’. Saya berharap semoga pengelolanya tetap idealisme dan keraskepala tapi ternyata tidak majalah ini tidak terbit lagi atau berhenti sejenak?

Kembali lagi kekomik, saya tertarik oleh gambar komik yang dibuat oleh Jan dan coba-coba untuk meniru gambar-gambar yang ada di komik-komik tersebut, setelah sering-sering latihan menggambar tak beberapa lama akhirnya bisa, saya rasa saya punya bakat menggambar juga karena gambar yang saya bikin lumayan bagus walaupun belum perfect anatominya, objek yang sering digambar adalah gambar orang terutama wanita, saya tidak tahu awalnya kenapa saya tertarik untuk menggambar makhluk cantik dan sexy ini, mungkin pengaruh dari gambar wanita di komik yang dibuat Jan Mintaraga juga.

Hobi ini berlanjut sampai SMA, buku-buku tulis atau kertas-kertas kosong yang tidak terpakai sering saya pakai untuk latihan menggambar, lama kelamaan gambar wanita yang saya bikin semakin bagus anatominya dan banyak gambar wanita cantik dalam keadaan tanpa busana, tanpa selembar benang pun, ’stark naked’ yang dilukis dengan berbagai posisi, gambar seperti ini rasa-rasanya spesialisasi saya waktu itu. Ibu saya marah-marah, saya diomelin sewaktu beliau menemukan buku kumpulan gambar saya yang banyak bergambar kaumnya ini dalam keadaan ’undress’.

Setelah tamat SMA saya sudah jarang membuat gambar-gambar lagi, lebih senang main-main, hobi ini akhirnya tidak diteruskan sampai sekarang, pernah waktu tahun 1998 saya coba-coba lagi membuat gambar tapi tangan saya sudah agak kaku, ada satu ilustrasi yang pernah saya bikin disobekan kertas kelihatannya masih agak bagus, gambar kepala wanita cukup sampai bahu saja jangan diterusin sampai kebawah-bawah seperti dulu lagi dan gambar tersebut saya simpan (ditampilkan).inon

Jika saja bakat ini terus saya kembangkan sampai sekarang bukan tidak mungkin saya menjadi ilustrator yang cukup baik tentunya dengan gambar-gambar yang sopan untuk cerpen-cerpen di majalah-majalah populer atau jadi komikus juga. Jika saya memulainya lagi sekarang ini rasa-rasanya memerlukan waktu yang lama untuk menghasilkan ilustrasi yang bagus, saya belum mencoba memulainya lagi.

Ada buku-buku tentang komik dan cara melukis komik sekarang ini tapi gayanya cenderung meniru gambar komik Manga Jepang atau komik terbitan Marvel dan DC comic, saya masih kagum dengan ilustrasi/gambar bercirikan orang Indonesia seperti dikomik yang pernah dibikin oleh Taguan Hardjo, Teguh Santosa, Ganesh Th, Fasen dll beberapa puluh tahun silam, belum ada saya lihat komikus Indonesia sekaliber mereka, mungkin nanti karena minat melukis komik sudah mulai banyak sekarang walau belum sebanyak penulis-penulis muda yang novel-novel nya sudah banyak yang terpajang di toko-toko buku bahkan ada beberapa novel mereka yang difilmkan juga.

Taguan Hardjo banyak dipuji gambarnya oleh kritikus termasuk oleh Arswendo yang pernah membahasnya dan dimuat diharian Kompas dulu, saya juga pengagum semua karya Taguan Hardjo terutama pada komik Keulana, Batas Firdaus, Morina dan edisi revisi dari Mencari Musang Berjanggut dan Setangkai Daun Surga yang gambarnya jauh lebih bagus dari edisi awal (akan ditampilkan beberapa gambar dari komik tersebut). Seperti yang pernah disebut kematian tak bisa dihindari sudah ditentukan waktunya, Taguan Hardjo dan komikus-komikus favorit yang saya sebut diatas juga sudah mendahului kita kembali kepada sang Khalik saya tak sempat berjumpa dengan mereka karena saya terlambat tahu mereka telah tiada, padahal beberapa bulan sembelum meninggal bpk.Taguan Hardjo pernah mengadakan temu muka dengan penggemarnya di British Council di Gedung Wijoyo Center Jkt.

Beberapa copy dari komik-komik Taguan Hardjo dan komikus Medan lainnya bisa saya peroleh lagi dan disimpan untuk koleksi. Komik Indonesia sekarang ini belum sanggup bersaing dengan komik-komik impor, mungkin salah satu penyebabnya dikarenakan kwalitas gambar yang belum sempurna dan khas oleh komikus-komikus Indonesia yang ada sekarang ini.

Pada bulan November 2008 ada pameran buku di Balai Sidang yang bertema ‘The Heritage of Ranah Minang’ saya tidak tahu kenapa mengambil tema ini karena tak ada hubungannya dengan pameran buku mungkin karena salah satu penyelenggaranya adalah Pemda Sumbar.

Hanya ada satu stand Sumbar tapi tidak menjual buku-buku, ada buku-buku dan foto-foto lama hanya untuk dipajang, ada satu foto pimpinan PRRI Ahmad Husein yang sedang mengucapkan sumpah setia kembali kepangkuan ibu pertiwi di sebuah lapangan.

Dipameran ini saya beli 4 buku salah satunya karangan Marcel Bonneff berjudul Komik Indonesia, buku terjemahan ini berisikan tentang penyelidikan bertahun-tahun penulisnya yang berkebangsaan Perancis tentang komik di Indonesia, buku cetakan ke 3 ini saya rasa perlu juga dimiliki bagi penggemar komik dan masih ada dijual di toko-toko buku. Buku satunya lagi berjudul ’Menerbitkan Buku Itu Gampang’ oleh Jonru cetakan Oktober 2008, sebuah buku bimbingan yang bagus untuk penulis pemula dan cara menerbitkan sebuah buku.

Di pameran ini saya juga hampir mendapatkan buku musik yang bagus dan pantas dikoleksi oleh penggemar musik, ceritanya begini waktu saya ke stand buku Kinokuniya yang banyak menjual buku impor itu saya lihat ada beberapa buku musik yang bagus-bagus dan ada yang di discount 50%. Ada satu buku musik yang tebal, agak berat dan masih disegel/masih dalam platik, saya tertarik dengan bentuk cover dan review di cover belakang buku tersebut, penjaga standnya bilang ’kalau bapak mau lihat isinya buka saja plastiknya’ ternyata isinya sesuai dengan covernya, mungkin penerbitnya punya prinsip ’judge a book by the cover’ bagus covernya bagus pula isinya, isinya berita-berita artis musik dibagi per dekade dari tahun 1960 sampai tahun 2000 dan setiap dekade dibagi lagi perbulan siapa-siapa artis-artis yang baru muncul, hit dan album mereka juga disertai banyak foto-foto yang bagus dicetak diatas kertas glossy yang bermutu tinggi, tebalnya lebih 500 halaman.

Harga aslinya Rp 560.000,- discount 50% jadi Rp 280.000,- saya hitung-hitung kalau saya beli via internet mungkin tidak dapat harga segitu buku plus ongkos kirimnya karena bukunya sangat berat, saya berniat membelinya buku tersebut tapi uang yang ada didompet masih kurang lalu saya ke ATM dan yang antri cukup panjang setelah dari ATM saya makan dan sholat Ashar, kembali lagi ke stand buku tersebut saya lihat ditempat semula buku tersebut sudah tidak ada lagi, cari ditempat lain mungkin dipindahin sama penjaganya atau orang-orang, tidak ada juga lalu saya tanya sama penjaganya dia bilang ’baru saja ada yang beli pak’ saya tercenung sesaat kenapa saya tidak titip dulu nanti bayarnya, masih ada yang lain nggak kata saya, dia bilang ’disini cuma ada satu pak’, saya bilang lagi ’coba dihubungi cabang toko buku Kinokuniya yang lain dan minta dikirim kesini’ supaya dapat discount selama pameran, setelah dihubunginya buku tersebut sudah tidak ada lagi, stock lama tahun 2005, ya bukan milik.

Ada juga buku dengan penerbit yang sama tapi isinya dari awal hingga akhir sebanyak 500 halaman itu hanya bercerita tentang satu group yaitu group dari zaman hippies dulu ’Grateful Dead’ yang punya semacam sekte dan banyak pengikut di Amerika dengan bintangnya yang terkenal Jerry Garcia, fotonya banyak yang bagus-bagus tapi saya sudah punya bukunya yang lain walau tidak tebal dan sebagus ini, tapi sudah tahu sedikit cerita group ini.

Kembali lagi ke cerita semula, selain baca komik saya suka baca buku saku terbitan ’Analisa’ yang kebanyakan ceritanya tentang ’wild west’ dan detektif, ada juga buku saku terbitan lain cerita tentang James Bond 007 dan koboi John Eagle 421 yang ilustrasinya dibikin oleh Delsy Syamsumar (alm) yang juga ilustrator di majalah Tjaraka dan beberapa majalah lain dan pernah pula bikin komik, ilustrasi yang dibikin oleh Delsy punya ciri sendiri dan juga bagus, wanitanya sexy-sexy dan berpakaian acak-acakan, kurang rapi. Novel-novel Indonesia juga ada dan novelis yang terkenal adalah Motinggo Boesye (alm) saya pernah juga baca beberapa novelnya, novel-novel pujangga lama juga banyak yang telah dibaca.

Pernah juga baca novel terjemahan cerita tentang percintaan yang sangat memilukan berjudul ’Marquerite Gauthier’ karangan Alexandre Dumas Jr judul aslinya ’The Lady Of The Camellias’, saya masih mencari novel tersebut di toko-toko buku tapi belum ada cetakan baru, novel yang lama sulit ditemukan. (Januari 2010 buku ini saya temukan setelah cukup lama mencari kemana-mana dengan judul ‘Wanita Berbunga Camelia’ terbitan Balai Pustaka th 1980 dan membacanya nya lagi setelah 42 tahun sejak pertama kali membacanya di th 1968 sewaktu masih di SMP)

Semasa SMA hobi baca komik dan buku saku ini selesai, yang masih berlanjut ya baca Aktuil yang akhirnya menurut saya menjadi ’The Best Indonesian Music Magazine of The Seventies’.

Setelah bekerja di Pt. Krakatau Steel Cilegon sekali-kali jalan-jalan ke Jakarta dan mampir lagi ke toko buku, diantara buku-buku yang dipajang ada juga pocket book bahasa Inggris, saya tertarik dengan disain covernya yang indah-indah. Setelah membaca review singkat isinya di cover belakang, ambil dua buku yang satu judulnya ’Never Love A Stranger’ karangan Harold Robbins (rip) dan satunya lagi ’Xaviera’ karangan Xaviera Hollander. Inilah untuk pertama kali saya beli pocket book bahasa Inggris, penasaran tentang apa sih ceritanya ? saya tertarik sampulnya yang ’eye catching’ banyak yang bagus-bagus gambarnya ada yang berupa foto atau lukisan.

Coba-coba baca, cukup banyak juga kata-kata yang tidak tahu artinya jadi sering buka-buka kamus juga dan akhirnya setiap kalimat-kalimatnya bisa dimengerti maksudnya, ceritanya sangat menarik walau agak lambat membacanya akhirnya tamat juga, ’Never Love A Stranger’ bercerita tentang petualangan seorang anak yatim piatu bernama ’Frankie Kane’, saya kagum dengan jalan ceritanya.

Setelah membaca disebuah majalah baru saya tahu Harold Robbins pengarang novel terkenal dan semua novel-novelnya best seller dan telah tejual berjuta-juta copy diseluruh dunia, banyak diterjemahkan ke bermacam-macam bahasa dan beberapa tahun kemudian ada juga beberapa novelnya yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia diantaranya ’Never Love A Stranger’ tersebut.

Setelah itu beli lagi beberapa pocket book karangan Harold Robbins diantaranya The Adventurers, Lonely Lady, Stilletto, 79 Park Avenue, Betsy dll, rupanya novel-novel ini ada juga yang ditulis oleh Harold Robbins antara tahun 1950-1960 setelah melihat edisi cetakan yang ada dihalaman copyright novel tsb dan kalimat-kalimat bahasa Inggris novel-novel ini juga tidak terlalu sulit, bukan bahasa sastra.

Saya semakin banyak tahu terjemahan kata-kata bahasa Inggris dengan membaca novel-novel yang cerita-ceritanya sangat menarik tersebut bahkan novelnya yang tebal ’The Adventurers’ bisa tamat dalam tempo singkat karena ceritanya juga sangat sangat mencekam. Novel ’The Adventurers’ ini juga di film kan dengan judul yang sama dengan bintang utamanya Bekim Fehmiu sebagai Dax Xenos, Leigh Taylor Young sebagai Amparo dan Candice Bergen sebagai Sue Ann, saking tertariknya dengan novel dan film ini saya sampai dua kali membaca novel dan menonton filmnya pada tahun 1977, 2 tahun setelah saya membaca novelnya. Setelah beberapa lama mencari dvd film ini di Glodok dan tidak ditemukan akhirnya diperoleh juga melalui eBay tapi tanpa text dan agak sulit memahami dialog nya tapi ya gambar juga bisa bercerita. Yang belum didapat dvd The Climber yang juga film nya pernah saya tonton dulu, film ini dibintangi oleh Joe Dallesandro yang pakai celana jeans pada cover art album ‘Sticky Fingers’, cover art album ini dirancang oleh Andy Warhol. stickydalles

Cerita film ‘The Adventurers’ ini sesuai judul, petualang Dax Xenos yang melihat keluarganya dibantai sewaktu dia masih kecil dan diselamatkan oleh Fat Cat pembantu keluarganya yang setia. Bapaknya Dax seorang penguasa dan ada penghianat yang ingin mengambil alih kekuasaan bapaknya, beberapa orang anak buah penghianat tertangkap dan diikat berjejer, Dax yang masih kecil dipanggil oleh pamannya diberi senjata laras panjang, senjata dipegang oleh Dax dengan dibantu pamannya, Dax disuruh menatap para pembunuh keluarganya, jari Dax ditarok dipelatuk senjata oleh pamannya dan membantu Dax menarik pelatuk tersebut dan memuntahkan peluru kesemua penghianat-penghianat tersebut, ternyata paman Dax tersebut juga terlibat dalam kudeta itu. Setelah dewasa Dax akhirnya juga jadi penguasa juga yang disegani dengan melalui bermacam-macam petualangan, juga dengan wanita. Awal cerita film ini saja sudah menggetarkan apalagi selanjutnya, lebih menggetarkan. Cerita di novel diuraikan lebih rinci dari filmmya, novel lain yang di film kan Betsy tapi saya belum menontonnya.adven

Ada sekitar 15 novel karangan Harold Robbins yang masih saya simpan sekarang ada beberapa yang belum pernah dibaca karena sudah agak malas membaca, novel nya yang terakhir saya baca berjudul ’A Stone For Danny Fisher’ cerita petualangan seorang petinju. Novel-novel Harold Robbins hampir semua bercerita tentang petualangan, bermacam-macam petualangan termasuk antara pria dan wanita.

Bagi penggemar novel jika masih ada di toko-toko buku, novel-novel karangan Harold Robbins bisa jadi pilihan untuk dikoleksi (highly recommended)  jika tidak ada di toko buku bisa mencarinya ditempat penjualan buku-buku bekas, saya pernah mendapatkan beberapa judul disana.

Kadang-kadang novel-novel ini dicetak ulang sampai beberapa kali dan saya pernah juga lihat di toko buku beberapa cover yang berbeda-beda untuk satu judul karena ada juga penerbit-penerbit lain yang mencetaknya. Buku saku banyak dijual ditoko-toko buku sekarang dan banyak juga yang sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, disain covernya bagus-bagus apa ceritanya juga bagus? ada yang bisa memberikan informasi nama novelis-novelis atau buku-buku saku yang bagus? Saya ingin juga sesekali baca novel-novel yang bagus lagi. Novel terakhir yang saya beli berjudul ’Sybil’ novel terjemahan tapi belum selesai dibaca baru beberapa halaman saja, sebenarnyanya novel ini sudah lama diedarkan dan dicetak beberapa kali tapi waktu itu belum berniat membelinya.

Mengenai novel satunya lagi karangan ’Xaviera Hollander’ cerita novel ini membuat saya (maaf) sering ereksi waktu membacanya ’almost like a porn book’, ada beberapa novel yang dikarang olehnya dan beli 2 novel lagi ya ceritanya tentang itu itu juga. Akhirnya saya tahu biographi pengarangnya dari sebuah majalah juga, Xaviera Hollader orang Belanda kelahiran Surabaya dan akhirnya jadi madame rumah bordil terkenal di USA, cerita novel-novelnya semacam biograpi tidak lama setelah beredar pocket book ini ditarik dari peredarannya ditoko-toko buku di Indonesia. Di cover belakang novel tersebut ada foto Xaviera yang masih muda dan cantik belum lama ini saya lihat foto terbaru Xaviera, sudah tua, sudah nenek-nenek begitu juga dengan bintang-bintang cantik dan sexy dulu seperti Brigitte Bardot, Raquel Welch, Sophia Loren, Liz Taylor juga artis-artis kita sudah banyak yang keriput tidak bisa melawan ketuaan banyak juga yang sudah meninggal,tak ada yang abadi termasuk ketampanan, kecantikan dan usia, semua akan berakhir…

‘and now…I am old’

Hari demi hari berjuta-juta orang didunia menjadi semakin tua termasuk saya tapi hobi masih terus berlanjut, tidak setiap hari tapi sesekali masih suka dengarin musik terutama lagu-lagu terbaik klasik rock 70’s (masa yang bisa disebut ‘exciting years in music history’ dan saya senang berada pada masa ini selagi masih muda).

Musik dan lagu yang didengar sekarang sudah cenderung yang agak soft seperti lagu Thank You, No Quarter (Led Zeppelin), Wait And See (Christine Perfect) saat mengedit artikel ini saya mendengarkan lagu syahdu ini berkali-kali)), Illusion, Wise Man (Uriah Heep) atau Circles, Religion (Ten Years After), atau lagu yang biasanya di album-album group-group rock ada diselipin 1 atau 2 lagu soft juga suka dengar musik group-group bluesrock atau progressive, seperti Steamhammer dan Van Der Graaf.

Sesekali juga suka dengar lagu-lagu dari group British Invasion dulu seperti group ‘The Love Affair’, World of Oz, Marmalade dan lagu-lagu late 60’s seperti ‘Dear Mr.Fantasy’ (Traffic), Waiting For The Wind, (Spooky Tooth), Summertime (Brainbox) dan Born To Die (Keef Hartley Band) dll,  sekarang bisa menyaksikan aksi dan mendengarkan lagu mereka melalui YouTube kalau dulu melalui program acara ‘Beat Club’ yang pernah disiarkan sesekali oleh TVRI sekitar tahun 1971.

Sayang untuk  melupakan lagu-lagu 60’s dan 70’s yang banyak dan enak-enak itu, merasa ada spirit baru setelah mendengarkannya.

Rasanya saya belum selesai berurusan dengan lagu-lagu klasik rock yang tidak ada basi basinya tersebut, masih ada rekaman di hard disk ratusan group-group 70’an yang masih asing dan tidak terkenal yang belum pernah saya dengar nama dan musik mereka dulu dan belum ditransfer ke Apple iPod 160 Gb yang bisa menyimpan puluhan ribu lagu-lagu dan bisa dibawa kemana-mana mendengarkan lagu-lagu dimana saja kita mau kecuali lagi mandi barangkali, saya belum membelinya menurut saya harganya masih mahal mungkin tidak bagi orang lain. Sesekali masih hunting piringan hitam siapa tahu dapat lagi PH yang disenangi dan langka ada kepuasan tersendiri jika memperolehnya.

Dari sekian ratus group-group rock yang obscure (tidak terkenal) tersebut baru dengar beberapa lagu saja, dua diantaranya ‘I Can See Inside Your Head’ dan ‘Chocolate Piano’ dari group bluesrock kota London yang menamakan dirinya ‘Orang Utan’ yang musik dan lagu-lagunya nya cukup bagus khas 70’s,  saya baru saja selesai membaca review tentang group yang mengambil nama binatang asli Indonesia ini, di www.rateyourmusic.com/ , 2 reviewer memberinya bintang 4 dan 4 ½ untuk album ‘one and only’ dan ‘same title’ group ini, ada beberapa group luar bernama Indonesia seperti Bintangs, Krakatoa dan Djam Karet (jangan-jangan nama ini menyindir orang Indonesia yang tidak tepat waktu).

Cukup banyak group-group dan jenis musik yang telah didengar tapi musik The Beatles masih tetap mempesona saya, sampai saat ini saya masih ‘beatlemania’. Tidak hanya lagu-lagu rock yang pop pun banyak disenangi termasuk lagu-lagu Indonesia dan Minang.

Kalau cara berpakaian tidak banyak berubah masih seperti waktu muda dulu masih suka pakai jeans (bukan jin, saya tidak berminat memakainya walau dijual murah).

Menonton film di bioskop yang dulu juga hobi sekarang hampir tidak pernah lagi terakhir beberapa tahun silam nonton Cape Fear yang dibintangi Robert de Niro yang soundtrack nya ‘Atlantis’ oleh Donovan. Pernah beli beberapa DVD bajakan tapi banyak yang belum ditonton, terakhir nonton DVD Beatles ‘HELP’ yang filmnya pernah saya tonton disebuah bioskop di Bandung di tahun 1972 (film ini dirilis tahun 1966) sesekali juga masih suka baca-baca komik, novel, majalah musik, film dll.

Insya Allah saya tidak lupa dan bisa lebih sering-sering mendengarkan dan membaca kitab suci Al Qur’an. Amin ya Rabb!

Kadang-kadang senyum-senyum sendiri rasa-rasanya lucu menulis beberapa artikel yang menceritakan kebiasaan ‘sewaktu masih muda’ dan masih terbawa-bawa sampai sekarang, tapi ya tidak apa-apalah kalau itu bukan kebiasaan yang tidak baik atau aneh kalau cuma selera musik atau cara berpakaian saja lagi pula hitung-hitung sebagai bahan untuk belajar menulis artikel di blog, kalau dikumpulin bisa dibukukan juga nanti barangkali sebagai personal story.

Di setiap artikel yang ditulis tidak semata-mata bercerita tentang diri sendiri, disebut-sebut juga beberapa nama orang lain juga tentang karya mereka sebagai tambahan informasi. (Eddy Nasral)

2 Responses to "‘When I Was Young’"

akhu suka banget sama gambar manga

ya bagus…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Archives

%d bloggers like this: